Wajibnya Bernvestasi

Wajibnya Berinvestasi

Kenapa saya menulis dengan kata ‘wajib’? bukan menuliskannya dengan kata ‘perlunya’ atau ‘pentingnya’? karena saya benar-benar ingin menekankan kepada seluruh kalangan masyarakat untuk sesegera mungkin memulai berinvestasi. Kata ‘wajib’ seakan-akan memiliki makna memaksa. Ya, karena di era globalisasi ini investasi sudah menjadi hal yang mutlak dilakukan dan tidak usah diperdebatkan. Satu masalah yang sebenarnya menjadi akar adalah karena sedikitnya masyarakat yang tidak melek investasi.

Makhuk Apakah Investasi Itu?

Mayoritas dari penduduk di Indonesia belum familiar dengan kata investasi, mereka lebih sering mendengar kata menabung. Pada dasarnya investasi dan menabung merupakan dua hal yang saling melengkapi dan kedua hal tersebut wajib diaplikasikan dalam kehidupan. Lalu makhluk apakah investasi itu? kenapa kita semua harus malakukannya. Investasi menurut James C Van Horne (Profesor Ekonomi) adalah kegiatan yang dilakukan dengan memanfaatkan kas pada saat ini dengan tujuan mendapatkan hasil di masa yang akan datang. Serupa dengan James C Van Horne, Fitz Gerald mendefiniskannya sebagai aktivitas berkaitan dengan usaha penarikan sumber-sumber yang dipakai untuk mengadakan modal barang pada saat sekarang. Barang modal tersebut kemudian akan menghasilkan aliran produk baru di masa yang akan datang.

Lalu, Kenapa Saya Harus Berinvestasi?

Inilah kenapa kita semua harus berinvestasi, satu alasan yang kuat kita wajib berinvestasi karena dengan berinvestasi, kita tidak perlu bekerja keras seumur hidup untuk mendapatkan return. Ketika kita hanya menaruh uang kita dalam sebuah wadah yang bernama dompet, maka sebenarnya uang kita tidak sedang bekerja. Uang kita hanya berdiam diri menganggur dan menunggu untuk dihabiskan. Berbeda dengan prinsip investasi, dimana seluruh dana yang kita alokasikan untuk investasi akan bekerja untuk kita. Oleh sebab itu prinsip tersebutlah yang perlu dimiliki oleh setiap individu, prinsip ‘membuat uang bekerja untuk kita’, seperti pernyataan Robert Toru Kiyosaki dalam bukunya yang berjudul Rich Dad Poor Dad. 

Tidak Susah Memahami Konsep Dasarnya

Saya akan mencoba menjelaskan berdasarkan konsep Ekonomi secara mudah. Kita harus mengenal 3 istilah mudah disini, ada Inflation, Nominal Value of Money (NV) dan Real Value of Money (RV).  Dalam dunia ekonomi, akan ada satu makhluk bernama inflation yang akan terus menerus menggerogoti real value dari uang kita. apalagi itu inflation dan real value? Begini, Nominal Value atau NV adalah uang Rp10,000 dalam dompet kita dan Real Value (RV) adalah semangkuk mie ayam pangsit. Pada saat ini kita bisa membeli mie ayam pangsit dengan harga Rp10,000/mangkuk, tetapi karena ada makhkul bernama inflasi, uang Rp10,000 yang tadi bisa digunakan untuk membeli semangkuk mie ayam pangsit, beberapa tahun kedepan hanya akan bisa digunakan untuk membeli pangsitnya saja. Ya, karena harganya sudah naik karena adanya inflasi tersebut.

Kita tahu rata-rata angka inflasi di Indonesia dalam 10 tahun terakhir berkisar pada angka 3%-9% dan pernah menyentuh 11,02% pada tahun 2010. Sebuah angka yang sangat besar untuk mengikis nilai nyata dari uang.

Terus, Bagaimana Melawan Inflasi Tersebut?

Nah, pertanyaan yang sangat baik. Jika inflasi berada pada angka 4%, maka cara terbaik untuk melawannya adalah dengan menjadikan uang kita bisa naik lebih dari 4%. sebagian dari teman-teman mungkin langsung berpikir, “kalau begitu saya masukan saja ke bank, toh bunganya bisa 4%-5%”. Ya, hal tersebut bisa dibenarkan, tetapi apakah kita semua mau mengendapkan uang kita di Bank selama bertahun tahun tetapi memberikan return yang tidak lebih dari 2% per tahun setelah inflasi? Jika prinsipnya seperti itu, maka kita tetap harus bekerja keras selamanya hingga mati untuk bisa bertahan hidup.

Lalu Harus Ditempatkan Dimanakah Dana Saya?

Banyak instrumen investasi yang bisa memberikan return dengan angka yang jauh lebih baik dari bunga bank, ambil contoh Reksa Dana. Ada variasi dari reksa dana dimana salah satunya Reksa Dana Pendapatan Tetap dengan hasil pengembalian bisa mencapai 11%. Ada juga instrumen investasi saham. Saham dinilai lebih bisa memberikan hasil pengembalian lebih tinggi. Tercatat tahun lalu, Indeks Harga Saham Gabungan naik sebessar 15,32% di tahun 2016, tertinggi di Asia Pasifik. Kita juga berinvestasi pada sektor real estate seperti rumah, ruko hingga area perkantoran, mengingat kita bisa mendapatkan pemasukan dari sewa dan pertambahan nilai dari instrumen tersebut.

Tidak peduli apakah kita berinvestsai pada instrumen saham, reksadana, properti, auto-pilot business hingga kombinasi dari semuanya. Objektif dari investasi selalu sama : meraih return yang besar di masa depan.

Mari mulai Berinvestasi!

Join Us and Get Free Special E-Book Now!

No spam guarantee.

More Awesome Knowledge

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *