Pola Konsumtif Rakyat Kita

Pola Konsumtif Rakyat Kita

Kira-kira jika ada pertanyaan, mana yang lebih besar, pemasukan kita atau pengeluaran kita? Apakah kita termasuk orang yang bisa mengatur keuangan dengan baik, atau malah kita termasuk golongan yang konsumtif dengan tagihan kartu kredit segunung? Atau malah kita termasuk orang-orang yang gali lubang tutup lubang dimana gaji hanya habis untuk kebutuhan sehari-hari? Semua itu hanya diri kita sendiri yang bisa menjawab.

Ada Data Menarik

Kemarin tanggal 6 Mei saya mengikuti Sekolah Pasar Modal (SPM) yang diadakan oleh Bursa Efek Indonesia, kebetulan karena saya sudah menjadi investor bursa dan memiliki kartu Akses, saya dapat langsung mengambil Sekolah Pasar Modal pada level 2 tanpa harus mengikuti level pertama.

Pada awalnya niat saya hanya untuk mendapatkan sertifikasi dari Bursa Efek Indonesia, tetapi disitu saya menyimak pemaparan menarik yang diberikan oleh Bapak Erik selaku petinggi dari PT Pacific 2000 Securities (salah satu perusahaan sekuritas di Indonesia).

Terdapat data nyata mengenai habit dari orang Indonesia dalam melakukan konsumsi setiap bulanannya.

Pola Konsumtif Masyarakat Kita

Data tersebut saya salin dari presentasi Bapak Erik. Beliau mengatakan bahwa untuk konsumsi makanan setiap bulannya, masyarakat Indonesia masih berada pada tingkat wajar di angka 26% dimana rata-rata negara lain juga berada pada angka yang hampir sama. Elemen lain pun seperti  housing, entertainment, personal care, health, education dan enterntainment dll masih berada pada angka yang wajar berkisar antara 2%-5%, bahkan cenderung rendah jika dibandingkan dengan negara lain. Tetapi yang mengejutkan adalah, hampir setengah (40%) dari pengeluaran masyarakat Indonesia berada pada elemen others, dimana elemen ini ternyata merujuk kepada hal-hal yang diluar perkiraan tim riset, tiga komponen terbesar yaitu

  • Gadget
  • Pulsa’
  • Rokok

Perilaku masyarakat kita mulai menunjukan perubahan semenjak penetrasi teknologi mulai berkembang di Indonesia. Sah-sah saja hukumnya untuk mengikuti perkembangan teknologi, karena jika tidak maka kita sendiri yang akan tertinggal dengan cepatnya perubahan zaman, tetapi yang perlu dikaji adalah, apakah iya untuk mengikuti perkembangan teknologi harus mengorbankan penghasilan kita sebegitu besarnya?Apakah setiap keluarnya HP dengan merek terbaru langsung harus menggantinya dengan HP tersebut? Padahal HP kita masih berfungsi  sebagaimana mestinya. Kita perlu merogoh kedalam kantong dan sadar dengan isi di dalam dompet kita.

Sejalan dengan gadget, barang komplementer dengan gadget yang berupa pulsa menjadi elemen penggerus pemasukan kita. Hal ini sejalan karena semakin canggihnya gadget, maka penggunaan paket  data dan pulsa akan semakin besar. Disinilah konsumen perlu teliti dalam memikirkannya. Mari dikritisi, Apakah pulsa yang saya gunakan hanya untuk sekedar membuka sosial media dan bercengkerama tanpa memberikan return, atau saya gunakan sebagai sarana menambah informasi yang berguna . Jika digunakan dan bisa memberikan return, baik secara informasi berguna maupun berupa tangible, maka penggunaan pulsa menjadi hal yang produktif.

Satu elemen yang menurut saya sangat parah adalah rokok. Konsumsi rokok juga menjadi salah satu faktor yang menggerogoti penghasilan kita. Data dari Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) pada tahun 2013 saja, konsumsi rokok harian rata-rata masyarakat di Indonesia mencapai 12 batang per hari. Saya yakin angka ini sudah naik mengingat revenue perusahaan-perusahaan rokok baik nasional maupun multinasional yang ada di Indonesia sudah naik. Maksud saya, seriuskah? Anda mengonsumsi produk yang akan membunuh Anda dan keuangan Anda di masa depan dengan anggaran sebegitu besarnya? Karena saya memiliki pandangan “Rokok merupakan produk yang justru akan membunuh konsumen setia nya”. Walaupun sebenarnya itu keputusan pribadi Anda dalam mengonsumsinya.

Lalu Solusinya…

Coba bandingkan dengan saving kita yang hanya  berada pada angka 10%. Income to saving ratio kita sangat jauh jika dibandingkan dengan Negara lain seperti Cina yang berada pada angka 32% yang berarti jika mereka memiliki gaji 10 juta rupiah per bulan, mereka masih mampu menyisihkan hingga 3,2 juta rupiah tiap bulannya. Coba pikirkan jika masyarakat kita mau mengurangi konsumsi rokok, pulsa dan gadget nya untuk dialihkan ke sektor tabungan, bukankah hal tersebut menjadi hal yang produktif?

Disinilah perlunya kita melakukan personal financial planning dan personal financial management. Secara teori hal ini tampak sederhana, tetapi apakah kita semua sudah mengaplikasikannya  dalam kehidupan kita?. Terkadang emosi kita lebih mempengaruhi pengambilan keputusan dibandingkan dengan pikiran rasional. Saya sangat menyarankan kepada seluruh pembaca untuk bersikap bijak dalam kehidupan khusunya jika menyangkut masalah keungan mengingat hal tersebut merupakan elemen yang menunjang kehidupan kita. Bukan seberapa banyak uang yang kita miliki, karena sebanyak  apapun uang jika tidak diatur dengan benar akan habis pula, tetapi seberapa baik kita bisa mengelola keuangan pribadi kita untuk menunjang kehidupan di masa depan.

Salam!

Join Us and Get Free Special E-Book Now!

No spam guarantee.

More Awesome Knowledge

4 thoughts on “Pola Konsumtif Rakyat Kita

  1. SETUJU ama pemikiran masbro! masyarakat kita konsumtif parah dan besar pasak daripada tiang. ane suka cara pandang ente bro. sering2 ngpost bro!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *