Lebih Dari Sepakbola

Apa yang saya pelajari dari menonton TIMNAS Indonesia

YO AYO AYO INDONESIA! KUINGIN KITA HARUS MENANG!”, begitulah kira-kira teriakan 30 ribu lebih pendukung yang memadati Stadion Utama Pakansari di Cibinong. Seluruh pendukung sangat antusias menyaksikan pertandingan final turnamen sepakbola terakbar se Asia Tenggara tersebut. Saya sendiri larut dalam euforia bersama puluhan ribu pendukung yang lain. Tampak pada menit awal TimNas Indonesia digempur habis-habisan oleh TimNas Thailand. Kurang lebih setengah jam pertandingan berjalan, lawan berhasil mencetak gol terlebih dahulu ke gawang TimNas Indonesia. Hebatnya, para pendukung TimNas Indonesia tidak terlihat lemas sama sekali. Alih-alih mencela pemain TimNas, teriakan mereka justru semakin kencang menyanyikan lagu-lagu untuk  menyemangati TimNas Indonesia yang sedang tertinggal. Bahkan para supporter yang berada di tribun seberang saya, mengibarkan bendera merah putih sepanjang kurang lebih 70 meter.

Suasana pecah ketika timnas Indonesia menyamakan kedudukan melalui kaki Rizky Pora pada babak kedua, seluruh isi stadion berteriak dan menyanyikan chant demi membuat  TimNas Indonesia lebih bersemangat. Skor 1-1 tidak bertahan lama, hanya beberapa menit berselang, TimNas Indonesia dapat membalikan keadaan menjadi 2-1 melalui sundulan Hansamu. Hingga pertandingan berakhir, skor tetap 2-1 dan Indonesia memenangkan final leg pertama Piala AFF 2016. Para pendukung saling berpelukan, tangis haru dan tawa senang pendukung sambil menyanyikan lagu Indonesia Raya mengiringi pemain TImNas Indonesia yang menselebrasikan kemenangannya di tengah lapangan.

Untuk pertama kalinya saya bisa menonton secara langsung TimNas Indonesia bertanding di lapangan. Tetapi yang membuat saya lebih terkesima adalah banyaknya insight baru yang saya dapatkan ketika menyaksikan laga tersebut.

Pelajaran Berharga

Saya melihat bagaimana semua orang yang ada di Stadion Pakansari, mereka tanpa memandang ras, suku, etnis maupun agama, mendukung TimNas Indonesia bermain di tengah lapangan. Mereka mendukung sebagai satu kesatuan, yaitu Indonesia. Inilah contoh yang harus di tiru oleh seluruh golongan masyarakat yang ada. Masyarakat memiliki kekuatan untuk mendorong pertumbuhan dan perkembangan suatu negara, oleh sebab itu masyarakat berkewajiban untuk mengaplikasikannya dalam praktik kehidupan nyata. Contohlah bagaimana pendukung Indonesia bersemangat untuk memberikan dukungannya tanpa henti, karena memang itu yang mereka bisa lakukan. Memberikan dukungan dalam bentuk moral dari bangku penonton. Analoginya, Sejauh apa masyarakat bisa memberikan kontribusinya terhadap perkembangan suatu negara, maka lakukan!.

Jangan hanya terlalu menyibukan diri dengan isu-isu yang dapat memecah belah kebersamaan bangsa. Coba kita renungkan dalam-dalam, manfaat apa yang dirasakan jika kebersamaan kita terpecah belah. Justru akan lebih banyak kerugian yang didapat. Susahnya komunikasi dalam bermasyarakat, tidak terbentuknya gotong royong yang sudah menjadi budaya bangsa kita hingga banyaknya aksi demonstrasi yang menyebabkan banyak sektor lumpuh. Pernahkah kita bayangkan berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan ketika bangsa kita terpecah belah?.

Kita selamanya tidak akan pernah bisa menjadi bangsa yang bersatu jika pola pikir masyarakatnya yang mudah untuk diadu domba. Tidak sedikit fenomena-fenomena yang kita rasakan bagaimana perpecahan terjadi hanya untuk memenuhi kepentingan sekumpulan golongan saja. Masyarakat terkadang kurang berpikir kritis mengenai dampak dan konsekuensi atas perbuatan yang dilakukan. Produktifkah apa yang dilakukan? Berguna kah bagi pertumbuhan bangsa? Dan bagaimana tindakan yang dilakukan dapat dijadikan contoh oleh generasi selanjutnya? Seperti inikah potret masyarkat bangsa Indonesia?

Kita boleh mempercayai dan mengimani suatu hal, tetapi tidak perlu sampai bersifat fanatik. Ijinkan saya mengutip sebuah kalimat dari filsuf terkenal abad 18, Denis Diderot

“From fanaticism to barbarism is only one step”

Asumsinya jika suatu golongan terlalu fanatik terhadap satu hal, isu tersebut dapat menyebabkan kesenjangan sehingga ditakutkan menyebarkan potensi-potensi berbahaya terhadap golongan lain. Oleh sebab itu, isu tersebut dapat menimbulkan perpecahan suatu bangsa. Tidakah kita mengingat kutipan dari film Sang Pencerah yang menceritakan kisah hidup K.H Ahmad Dahlan tokoh pendiri Organisasi Muhammadiyah.

“Kita itu boleh punya prinsip, asal jangan fanatik karena fanatik itu ciri orang bodoh…”

Jika kita bersifat terlalu fanatik dalam bermasyarakat, sama saja kita menutup mata dan merasa bahwa seolah-olah kita menjadi individu yang paling benar atau suci. kita tidak bisa hanya mengandalkan keinginan, hanya karena merasa bahwa keinginan itu baik. Kita harus mulai melebur dan bersatu menjadi satu kesatuan yang utuh guna memajukan Indonesia dari segala sektor, baik dari Politik, Ekonomi hingga Sosial serta sektor lainnya.

Sekarang…

kita ibarat TimNas Indonesia yang sedang tertinggal 0-1 dari lawannya. Banyak pekerjaan yang perlu dibenahi untuk bisa bangkit mengejar ketertinggalan. Kini saatnya kita mulai bergerak maju bersama, tanpa memandang latar belakang, suku, ras dan agama. Jika TimNas Indonesia bisa membalikan keadaan dengan dukungan 30ribu orang, maka bangsa Indonesia bisa melakukannya dengan dukungan lebih dari 250 juta orang. Dengan persatuan dan kesatuan serta kerja keras seluruh masyarakat. Indonesia bisa bangkit, Indonesia bisa membalikan keadaan, Indonesia bisa lebih baik dan Indonesia pasti bisa!

Salam,

 “Garuda di Dadaku, Garuda kebanggaanku, kuyakin hari ini pasti menang!”

*tulisan ini sudah pernah saya muat di facebook pribadi saya sebelumnya, feel free to visit here

Join Us and Get Free Special E-Book Now!

No spam guarantee.

More Awesome Knowledge

2 thoughts on “Lebih Dari Sepakbola

  1. Mantap,,, terlepas dari blog ente gan. . . Emejing pemikiran ente gan. Ane sangat sependapat dengan seluruh pemikiran yang tertulis di blog dari atas sampai bawah. . Pokoknya emejing saya kasih nilai 100 buat cara pemikiran ente gan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *